Skin is made by Mitsuno Hanna
Basecode by Pika
Helped by { 1 | 2 | 3 }
Cerpen: Rahasia Lab Bahasa
Posted on Sabtu, 14 Mei 2016 @ 04.36 < 2 comment(s) >
Rahasia Lab Bahasa, oleh 11:02 am.


And that’s it! Keseluruhan SMA di mana kamu akan belajar selama kurang lebih satu tahun setengah ke depan.” Gadis bernama Diva tersebut mengakhiri tur singkat mereka dengan bertepuk tangan. “I know kamu pasti merasa asing di sini, but don’t worry—lama-lama juga terbiasa kok.”
Fei meringis. Dia memang merasa asing di sini. Tiongkok dan Indonesia... yah, bisa dikatakan jauh berbeda. Apa lagi Fei belum pernah mengunjungi tanah kelahiran ayahnya ini sebelumnya. “Terima kasih, Diva,” katanya. Bahasa Indonesia terasa asing di lidahnya dan teliganya. Terlalu lambat. Terlalu sederhana. Tidak seperti bahasa Mandarin. Ia mencermati denah SMAN 3 Bogor di tangannya, berusaha bertanya sesuatu agar suasana tidak terasa canggung—meski kelihatannya Diva bisa menangani suasana secanggung apa pun. Teman sekelasnya itu memiliki hawa seperti penyiar radio yang bisa bercakap-cakap dengan baik, belum lagi cara bicaranya yang unik; beralih-alih dari Indonesia ke Inggris.
Ruangan berlabel ‘Lab Bahasa’ menarik perhatian Fei. Ruangan itu berada di ujung kanan denah dan hanya bisa dicapai melewati kantin dan lorong sempit menuju toilet lelaki.  “Kenapa kita tidak mengunjungi lab bahasa?”
Hening sesaat. Diva tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab, “Lab bahasa? Ruangan itu tidak pernah digunakan lagi, I guess.”
“Kenapa?” Rasa penasaran Fei muncul.
Dunno. Banyak yang bilang there are ghosts di sana,” Diva mengangkat bahu.
Ghosts?” tanya Fei dengan mata berbinar, berharap Diva mau menceritakan lebih banyak. Ia sangat menyukai misteri—yang menurut teman-temannya di Tiongkok sana merupakan hal yang tidak cocok dengan kepribadiannya. “Anak yang pemalu dan kikuk seharusnya takut dengan hantu,” kata mereka, sama sekali tidak masuk akal.
“Ya, but I don’t believe in rumors,” Diva mengelak.
Fei dapat merasakan bahwa Diva menyembunyikan sesuatu. Dirinya juga sadar bahwa gadis itu tidak akan memberitahunya. Jadi, Fei hanya mengangguk dan mengiyakan saat Diva mengajaknya kembali ke kelas.
***

Kantin sekolah begitu sesak bahkan pada menit pertama istirahat dimulai. Hampir-hampir Fei kehilangan jejak teman-teman kelasnya yang baru. Gadis itu lega begitu menemukan Khansa, salah seorang teman sekelasnya, sedang memisahkan diri dari salah satu antrean dengan sebungkus gorengan di tangannya.
Khansa dengan jahil menarik rambut sebahu Fei dengan tangannya yang kosong sebelum menggandeng gadis tersebut. “Paciweuh, ya.”
Paciweuh?” ulang Fei bingung.
Riweuh.” Khansa terdiam sesaat. Sadar kalau Fei bahkan tidak tahu apa arti ‘riweuh’. “Ramai. Pusing. Banyak orang. Ribet. Gitulah pokoknya. Kalau di Cina—eh, Tiongkok, kantinnya kayak apa?”
Tapi Fei tidak menjawab. Gadis itu sedang memerhatikan seorang lelaki di ujung kantin, di dekat belokan menuju lab bahasa. Lelaki yang terlihat rapi meski mengenakan seragam putih-abu pudar, berdiri dan menatap keramaian di hadapannya. Meski beberapa anak lain berjalan melewatinya, mereka tidak saling bertegur sapa. Seolah ada kaca pemisah antara si lelaki dengan yang lainnya.
“Siapa itu?” tanya Fei pada Khansa.
Khansa menyipitkan mata ke arah yang Fei maksud. “Oh, itu mah A Rishaq,” ujarnya ringan, seolah pertanyaan Fei sudah sering dilontarkan oleh anak baru lainnya. “Anak 12 MIPA 4. Ganteng, ya? Tapi pendiam.”
“Iya,” jawab Fei. Tidak yakin dirinya kecewa atau lega karena yang dilihatnya bukan hantu.
***

Lorong menuju lab bahasa terlihat sangat menarik di mata Fei. Magnet tak kasat mata seolah menariknya untuk pergi ke sana, yang akhirnya dilakukannya sepulang sekolah. Padahal ketika jam pelajaran Sejarah tadi, anak-anak di kelasnya meminta Bu Dewi bercerita tentang misteri di sekolah dan Bu Dewi memperingatkannya agar ‘tidak mengganggu’ lab bahasa.
Ah, tidak. Ketakutannya tidak berdasar.
Fei tertegun ketika sampai di depan lab bahasa. Ruangan itu tidak kosong. Ada suara riuh di dalamnya, dan siluet murid-murid yang senantiasa bergerak dari balik kaca jendela yang gelap. Mungkin sekelompok anak sedang mencoba uji nyali. Melihat betapa cerianya mereka, pasti mereka tidak menemukan hantu di dalam sana.
Kaki Fei sudah gatal ingin masuk ketika salah satu siluet yang terlihat melalui jendela melambai padanya, mengajaknya masuk. Fei menunjuk dirinya sendiri, dan siluet itu mengangguk. Perlahan tapi pasti, tangan Fei terulur pada kenop pintu.
Pada detik yang sama ketika pintu terbuka, sesuatu menariknya dan menghempaskannya ke dalam, tidak memberinya kesempatan untuk melihat apa yang ada di dalam sana. Fei menjerit.
Tiga puluh dua pasang mata menatapnya. Tiga puluh dua pasang mata milik sosok-sosok kosong yang terlihat sudah sangat lama berada di dalam sana. Tangan-tangan dingin memegangi tubuhnya, menggiringnya ke salah satu kursi di sebelah seorang gadis berambut panjang—yang langsung tersenyum, terlalu lebar, begitu Fei dipaksa duduk. “Selamat datang,” katanya. Suaranya melengking tajam.
“Keluarkan aku,” pinta Fei panik. Bulu kuduknya merinding, tapi tak ada yang bisa dilakukannya karena mereka semua memblokade gerakannya.
“Oh, kau tidak bisa keluar.” Gadis itu bangkit dan tertawa, terlalu nyaring. Ia berjalan ringan menuju pintu masuk. “Karena jika kau memasuki kelas ini, itu berarti kau menjadi murid di sini.”
“Dan jika kau menjadi murid di sini, salah satu dari kami akan menggantikanmu di luar sana,” sambung yang lainnya ketika gadis tadi melangkah ke luar pintu.
***

Ada yang aneh dengan anak baru dari Tiongkok itu—Fei.
Diva tahu betul kemarin Fei masih terbata-bata dalam menggunakan bahasa Indonesia. Sementara Khansa benar-benar ingat, Fei memiliki rambut sebahu yang ditariknya ketika di kantin kemarin. Bu Dewi juga sadar, Fei adalah anak yang pemalu—selama pelajaran Sejarah di hari Senin, gadis baru itu hanya diam dan sesekali mengangguk ketika teman-temannya memaksa Bu Dewi untuk bercerita tentang lab bahasa.
Wajah dan tingkahnya kini berbeda. Tapi identitas yang ia gunakan sama.
Ketika pada akhirnya ketiganya sadar akan apa yang telah terjadi, mereka tersenyum kecut dan menutup mata. Tidak ada yang bisa dilakukan, kecuali menghipnotis diri sendiri dengan berpikir bahwa tidak ada yang salah. Bukankah Fei adalah Fei—gadis periang dengan rambut panjang kusut yang senantiasa tertawa terlalu nyaring dan memakai seragam SMA yang sudah sangat ketinggalan zaman?
Ya. Mustahil Fei yang ini adalah Fei yang berbeda. Bahkan jika seseorang mengaku mendengar jeritan meminta tolong dalam bahasa Mandarin dari lab bahasa.
***

Label: