Skin is made by Mitsuno Hanna
Basecode by Pika
Helped by { 1 | 2 | 3 }
Cerpen: Closer
Posted on Rabu, 16 Maret 2016 @ 09.28 < 0 comment(s) >
Closer, oleh Gaby


Anin menoleh ketika suara bel cafe 'Momento' berbunyi, menandakan bahwa mereka kedatangan seorang tamu. Dan benar saja dugaan Anin, laki-laki itu dengan senyuman lebar hari ini membawa bunga matahari. Bunga yang dibawa oleh laki-laki itu setiap harinya pasti berbeda dan setiap harinya pasti ada filosofinya.
Laki-laki itu memang gemar datang ke cafe tersebut. Bukan karena ia menyukai kopinya atau menyukai suasana cafe yang dibuat sedemikian rupa agar mendekati tahun 80-an. Namun, hanya untuk mengunjungi satu gadis, Anin. Memberikannya bunga dan menemani Anin hingga ia menghabiskan kopinya. Terkadang laki-laki itu akan mengajak Anin berbicara walau kadang hanya ditanggapi senyuman oleh Anin. Anin memang tak banyak bicara, gadis itu pendiam. Dulu memang ia begitu ceria namun kesedihan yang menimpanya terus menerus membuatnya menjadi pemurung. Gadis itu banyak kehilangan jati dirinya.
"Selamat sore, Anin!" sapa Gilang kemudian duduk di depan Anin dengan senyum cemerlangnya. "Hari ini aku bawakan kamu bunga matahari! Karena hari ini langit sedang cerah-cerahnya! Dan aku harap senyummu akan secerah matahari hari ini!" lanjut Gilang sambil memberikan sebuket bunga matahari kepada Anin. Gadis itu hanya tersenyum tipis kemudian menerimanya, meletakkan bunga itu tak jauh dari lengannya.
"Anin, aku mau cerita. Hari ini tepat sudah sebulan aku menemani sore kamu. Namun, sampai saat ini belum ada kata-kata keluar dari bibirmu. Kapan kamu akan berbicara padaku, Nin? Apakah aku belum cukup lama menunggu? Tapi tak apa, aku akan menemanimu terus hingga akhirnya kamu berbicara padaku," kata Gilang dengan senyuman tulus.
Anin menundukkan kepalanya, melihat cappucino kesukaannya dengan perasaan campur aduk. Gadis itu memang tak pernah berbicara kepada Gilang, ia tidak menyuruh ataupun mengusir laki-laki itu. Pada awalnya, Gilang memang menganggu tapi lama kelamaan Anin terbiasa dengan celotehan laki-laki itu. Laki-laki itu membuat harinya ramai sebulan terakhir ini.
"Aku akan menunggumu bicara sebelum aku memberitahukanmu sebuah kabar. Entahlah itu kabar baik atau kabar buruk. Yang jelas aku akan memberitahukannya ketika kamu mulai berbicara padaku," kata Gilang kembali sementara Anin merubah raut wajahnya menjadi bingung. Anin memang tidak berbicara, tapi Gilang tahu bahwa gadis itu mendengarkannya. Anin mudah sekali berekspresi ketika Gilang berceloteh ia seolah berbicara lewat raut wajahnya.
"Sudah tak usah dipikirkan. Hari ini aku ingin mengajakmu bernostalgia pada hari pertama aku menemanimu minum kopi. Bagaimana seseorang yang tidak kamu kenal duduk di depanmu dengan baju basah kuyup," kata Gilang yang membuat pikiran Anin kembali pada sebulan yang lalu.
Gilang bisa saja tidak mengenalnya namun Anin mengenal dirinya. Siapa yang tidak tahu Gilang? Laki-laki itu adalah laki-laki populer di sekolah mereka. Dengan tampang setengah Eropa yang dimilikinya ia hampir sempurna. Bola matanya berwarna cokelat terang seperti anak kecil di lindungi dengan sepasang alis tebal yang membuat setiap kaum Hawa iri padanya. Rambutnya berwarna cokelat yang mengingatkan Anin pada musim gugur. Tulang pipi laki-laki itu sangat tegas yang membuatnya terlihat menakutkan ketika marah. Namun semuanya sirna jika laki-laki itu tersenyum, menampakkan 2 lesung pipi yang diwarisinya dari ibundanya.
"Sebenarnya saat itu aku sedang mencari alamat. Sepupuku hari itu berulang tahun dan aku mencoba datang ke toko mainan kesukaannya. Namun, aku tersesat dan sialnya hari itu hujan deras. Aku tak membawa payung dan basah kuyup."
"Kemudian aku menoleh kearah jendela cafe ini. Kamu sedang duduk melamun terlihat cantik dan kesepian pada saat bersamaan. Raut wajahmu menunjukkan kesedihan yang mendalam namun kamu terlalu cantik Anin untuk bersedih. Saat itu juga aku tak berpikir banyak dan langsung menghampirimu. Aku bertekad menghapus kesedihanmu. Aku ingin membuatmu tersenyum kembali," ucap Gilang dengan senyum gembiranya. Anin selalu suka ketika Gilang bercerita, laki-laki itu begitu ekspresif matanya terlihat bercahaya dan menggemaskan. Seolah mengajak orang lain untuk ikut larut.
"Kemudian aku melihatmu di sekolah keesokan harinya. Aku begitu terkejut! Bagaimana mungkin selama ini kita satu sekolah namun aku melewatkan gadis secantik dirimu, Nin?" ucap Gilang menatap Anin tepat di manik mata gadis itu. Membuat pipi Anin bersemu merah, Gilang pun mengusap pipi Anin dengan lembut. Gadis itu sekarang terlihat begitu menggemaskan.
"Hari itu juga aku mengetahui namamu. Anindya Cantika Alitza nama yang begitu indah. Nama yang menjadi misi utamaku saat ini, membuatmu bahagia."
"Maafkan aku bila berkata lancang. Namun, ketika berkata aku mau membuatmu bahagia aku lupa aku mungkin saja jatuh hati padamu. Dan maafkan aku, Anin. Tidak, aku tidak menyesalinya. Aku, Gilang Pratama Putra, jatuh cinta kepadamu, Anindya Cantika Alitza," ucap Gilang menatap Anin dengan sorot mata tulus. Sementara tubuh gadis itu sudah menegang, terakhir kali ia membiarkan dirinya jatuh cinta, ia terluka begitu dalam. Tidak, ia tidak akan membiarkan dirinya lewati fase itu kembali. Namun, bagaimana jika Gilang pantas untuk dicintai?
"Jangan tegang seperti itu, Anin. Aku tahu dirimu trauma jatuh cinta. Aku tak akan meminta lebih, aku tahu diriku hanyalah seorang yang menemanimu meminum kopi. Aku tahu diri, Anin," kata Gilang dengan lemah membuat Anin membuang wajahnya. Ia benci bagaimana suara Gilang melemah, bagaimana mata Gilang meredup akibat dirinya.
Anin pun beranjak berdiri dan pergi meninggalkan cafe itu. Pada hari itu, untuk pertama kalinya, mereka berdua tidak pergi meninggalkan cafe berdua.
***

Hari ini sudah memasuki hari ketujuh Anin tidak datang ke cafe tersebut. Hanya Gilang yang datang dan menunggu gadis itu namun angan tetaplah angan. Anin tidak menunjukkan batang hidungnya. Gilang pun terlihat tidak terurus dari hari ke hari. Matanya terlihat cekung karena kurang tidur, rambut-rambut halus pun tumbuh di sekitar dagunya. Sudah agak lama ia tidak bercukur. Ia gila memikirkan gadisnya yang tak kunjung datang, bahkan di sekolah pun Anin seolah-olah di telan bumi. Menghilang begitu saja.
Bel Momento berbunyi menandakan mereka kedatangan tamu. Namun, hari itu, Gilang tidak menoleh. Ia lelah berharap pada bel yang berbunyi. Ia hanya ingin menunggu hari ini.
Tak disangka, tamu itu duduk manis di depan Gilang yang sedang melamun. Memikirkan Anin yang tak kunjung datang. Tamu itu pun diam sambil mengamati Gilang, laki-laki itu terlihat begitu sedih dan kesepian. Namun pada saat yang bersamaan begitu tampan parasnya. Tak ada perempuan yang tak kagum melihat paras laki-laki itu, lihatlah, setiap perempuan yang berjalan di depan cafe akan sedikit tertegun menyadari ketampanan laki-laki ini yang bahkan laki-laki ini tak sadari.
"Gilang." Laki-laki itu masih saja melamun.
"Gilang."
"Gilang! Ini aku, Anin," ucap Anin yang membuat Gilang tersadar dengan cepat. Laki-laki itu tertegun melihat Anin di hadapannya saat ini. Gadis itu memang tak berubah, parasnya masih saja cantik. Dengan mata hitam legam yang menggemaskan dilindungi oleh alis yang terlihat rapih membuat iri setiap wanita karena ia tak perlu membuat alisnya sempurna. Rambut hitam legamnya pun masih saja keriting gantung di bawahnya, Anin adalah cerminan kecantikan ayu Indonesia.
"Ini Anin beneran ngomong sama Gilang?" bisik Gilang dengan raut wajah tak percaya.
"Iya, ini Anin ngomong. Sebelumnya, Anin mau minta maaf sudah menghindar selama seminggu. Anin butuh waktu untuk pengakuan Gilang yang tiba-tiba begitu saja. Anin trauma Gilang," ucap Anin sambil memainkan kesepuluh jarinya.
"Aku tahu bila kamu trauma, Anin. Tak perlu khawatir, aku sudah berkata jika kamu tak siap maka kita jalani seperti biasa saja. Aku akan tetap setia menunggu," jawab Gilang dengan lembut.
"Engga, Gilang. Kamu belum dengar semuanya. Semua orang hanya mengetahui setengah ceritanya, hanya segelintir orang yang tahu cerita sebenarnya. Anin tahu mungkin setelah ini, Gilang gak akan mau lagi menatap Anin. Anin terlalu kotor untuk ditatap apalagi dicintai oleh Gilang," kata Anin dengan getir.
"Ada apa, Anin? Jangan berkata seperti itu." Gilang pun mengambil kedua tangan Anin kemudian mengusapnya perlahan, memberikan gadis itu kekuatan.
"Semua orang tahunya bahwa aku depresi ketika ditinggal oleh Adi. Semua orang menganggap kami pasangan yang begitu romantis hingga aku begitu sulit melepaskan diri darinya. Tapi, engga. Jika hanya kenangan yang ia tinggalkan mungkin aku masih bisa menjalani hidupku seperti biasanya. Namun, ia melukaiku, Gilang. Ia membunuh sebagian dari diriku."
"Kami melakukan hubungan intim. Sesuatu yang sangat aku sesali. Memang tak ada paksaan dari pihaknya, karena waktu itu, aku sedang cinta-cintanya dengan dirinya. Hingga aku rela menyerahkan keperawananku," lanjut Anin yang sudah berurai air mata sementara Gilang hanya terdiam. Membuat Anin semakin yakin bahwa Gilang jijik dengan dirinya.
"Sebulan kemudian aku menyadari bahwa diriku hamil. Kami lupa mengenakan pengaman ketika melakukannya. Dan aku hamil, di umur 17 tahun! Betapa bodohnya diriku. Dengan perasaan begitu takut namun yakin bahwa ia akan bertanggung jawab, aku mengatakannya pada Adi bahwa aku mengandung anaknya."
"Dan aku salah, ia tak menerima anaknya. Ia marah besar mengatakan bahwa aku adalah wanita licik karena sudah menjebak dirinya, mengatakan bahwa aku menjebaknya karena lupa memakai pengaman. Mengatakan aku wanita murahan karena mau saja menuruti nafsunya. Ia bahkan berteriak bahwa mungkin saja anak dalam kandunganku bukan anaknya. Bagaimana mungkin! Aku hanya melakukannya sekali dengan dirinya, aku tidak pernah berselingkuh melirik saja diriku tak berani. Ia menjabat rambutku begitu keras hari itu bahkan aku merasa bahwa kulit kepalaku akan lepas. Ia menampar diriku berkali-kali hingga mulutku terasa kebas, darah mengalir deras dari mulutku."
Anin pun terisak kecil. Kenangan ini begitu menyakiti dirinya. Ia ingat betapa laki-laki yang begitu lembut berubah menjadi seorang monster yang mencoba membunuhnya hari itu. Bagaimana seseorang yang dulu mengatakan cinta berkata bahwa ia hanyalah wanita murahan untuk menyalurkan nafsunya saja. Anin merasa tak punya harga diri saat itu, ia merasa bahwa dirinya dibunuh hari itu oleh Adi.
"Ketika ia berhenti menamparku, aku mencoba berdiri. Namun, tak disangka ia mendorongku ke dinding begitu keras hingga aku jatuh pingsan."
"Tapi, tapi, tak apa aku disiksa dan dimaki olehnya namun ia merenggut nyawa anakku hari itu, Gilang! Anakku yang baru berusia sebulan dalam rahimku meninggal karenanya! Aku bahkan tak bisa menyelamatkan nyawa anakku, Gilang. Ia mencabut nyawa malaikatku. Bahkan melihat wajahnya saja aku tak bisa."
Tangisan Anin pun semakin keras mengingat setiap luka yang ia dapatkan dari Adi. Bahkan luka-luka itu membekas pada tubuhnya, seolah pengingat kekejian Adi hari itu. Bagaimana laki-laki itu membunuh darah dagingnya sendiri. Membuat Anin tak bisa melihat wajah anaknya sendiri.
Gilang pun berdiri kemudian menarik Anin ke dalam pelukannya. Ia tahu kisah itu, walau simpang siur, ia tahu kebenarannya karena Papanya adalah pengacara Adi ketika dirinya di tuntut atas pembunuhan dan tindak kekerasan. Harusnya Gilang tidak tahu jika saja Papanya tidak ceroboh menyimpan file. Selama ini Gilang diam, dari jauh memperhatikan Anin yang selama ini seperti mayat hidup ketika dirinya dinyatakan keguguran. Anin yang ceria dan supel berubah menjadi pendiam dan tak bernyawa. Semua keceriannya terenggut hari itu.
"Aku... Aku mengerti jika dirimu jijik dengan diriku, Gilang. Wanita bodoh mana yang menyerahkan keperawanannya begitu saja dan keguguran. Aku ini wanita menjijikan," ucap Anin dengan berurai air mata.
"Anin, dengarkan aku." Gilang pun memegang lembut kedua pipi Anin dan mengarahkan kedua mata hitam legam itu untuk menatap dirinya.
"Kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku temui. Kamu tidak lari dari tanggung jawabmu ketika kamu dinyatakan hamil, kamu tidak berpikir untuk menggugurkan kandunganmu. Kamu berhati mulia, Anin. Kamu mempunyai kebaikan lebih dari siapapun. Ingat akan hal itu."
"Itu terjadi di masa lalu. Dan aku, bukan ingin menjadi masa lalumu. Aku ingin menjadi masa sekarang dan masa depanmu. Akan aku bantu dirimu sembuh dari masa lalu kemudian bergandengan tangan dengan diriku berjalan ke masa depan," jawab Gilang dengan senyum lembut. Anin melihat ketulusan di kedua mata cokelat itu. Ketulusan yang tak pernah ia rasakan di mata Adi namun terpampang jelas di mata Gilang
"Matamu indah, mengingatkanku pada musim gugur," gumam Anin terpesona yang membuat Gilang terkekeh geli. Gilang pun menghapus sisa-sisa air mata Anin kemudian mengecup kening gadis itu cukup lama. Ia pun kembali ke tempat duduknya.
"Anin, aku senang kamu mulai berbicara kepadaku. Bahkan menceritakan kenangan gelapmu padaku. Aku harus memberitahukanmu sebuah kabar. Maaf, karena harus sekarang karena seminggu lagi aku harus berangkat."
"Aku diterima di perguruan tinggi di Inggris. Ayah memintaku untuk mengambilnya, karena nilaiku yang memang tinggi, mereka memintaku untuk masuk kelas tambahan. Aku mengikuti kelas lebih dulu dari murid lainnya dan ini merupakan suatu kehormatan. Namun, artinya aku harus meninggalkanmu seminggu dari sekarang, Anin," ucap Gilang sambil menundukkan kepalanya. Anin pun tersenyum lembut, ia tahu perihal masuknya Gilang ke universitas di Inggris dan diundang untuk belajar lebih awal. Ia sudah mempersiapkan dirinya.
"Aku tahu. Kejar lah mimpimu, Gilang. Aku yakin dirimu akan sukses, kamu laki-laki yang baik."
"Kamu tahu?" tanya Gilang bingung. Anin pun tertawa kecil membuat Gilang terpana. Anin terlihat begitu cantik ketika tertawa seperti tadi. Dia harus membuat Anin lebih sering tertawa.
"Satu sekolah juga tahu, Gilang. Prestasi kamu yang satu itu sungguh membanggakan. Tak ada murid yang tidak tahu," jawab Anin dengan lembut.
"Anin, mau kah kamu menunggu aku hingga aku menyelesaikan pendidikan aku di Inggris?" tanya Gilang.
"Kamu tahu bukan bahwa aku akan selalu ada di Momento?" jawab Anin dengan senyuman. Namun, bagi Gilang jawaban itu sudah lebih dari cukup. Gadisnya akan menunggunya pulang. Karena gadisnya adalah rumahnya. Rumah sesungguhnya.
***

Lima tahun kemudian.

Sama seperti hari-hari sebelumnya selama lima tahun terakhir, Anin menunggu di sisi meja cafe yang berhadapan langsung dengan kaca. Namun, hari itu ia ditemani dengan buku sketsanya. Yup, ia menuntaskan pendidikannya di bidan fashion design dan sekarang sudah merintis buruknya yang bergerak khusus di bidang gaun saja. Pagi ini, sepasang pengantin meminta rancangan khusus dirinya yang harus ia kebut karena pasangan itu akan datang kembali untuk melihat sketsanya tiga hari kemudian. Namun, jadwal Anin akhir-akhir begitu padat.
Ia pun mulai tenggelam ke dalam dunianya hingga tak menyadari bahwa sudah ada seorang tamu yang duduk di depannya. Memperhatikan Anin dengan seksama, gadis itu terlihat semakin dewasa. Bahkan parasnya saja semakin cantik tak ada yang berubah kecuali saat ini mata gadis itu memancarkan semangat yang membara. Tamu itu pun menyadari bahwa saat itu, Anin sedang mendesign jadi ia biarkan saja. Ia tak ingin menganggu pekerjaan Anin.
Anin pun tersenyum puas melihat gaun rancangannya. Rancangan ini dari hatinya yang paling dalam, ia harap, mereka akan setuju dengan rancangannya. Baru ketika merapikan alat tulisnya, Anin terlonjak kaget. Ada tamu di hadapannya.
"Apa kabar, Anin?" tanya Gilang dengan tersenyum lembut. Tak ada yang berubah dari Gilang kecuali wajahnya yang terlihat semakin matang, tingginya pun semakin menjulang. Namun semuanya masih sama, bahkan matanya cokelatnya pun masih seperti boneka.
"Baik, Gilang. Kamu?" tanya Anin dengan lembut.
"Sangat baik. Aku sudah pulang."
"Memang, kan sudah di Indonesia, Gilang," jawab Anin sambil tertawa kecil.
"Bukan, aku sudah pulang. Rumah aku itu kamu, Anin. Bagiku, rumah bukanlah tempat namun seseorang. Dimana bahwa ketika aku ada, perasaan aman dan nyaman menyelimutiku. Kamu rumah bagiku. Dan aku masih menjadi rumah untukmu, bukan?"
"Selalu, Gilang. Selalu. Selamat kembali ke rumah, Gilangku," bisik Anin di telinga Gilang. Laki-laki itu pun menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Ia begitu merindukan perempuan kecilnya. Wangi tubuhnya yang strawberry bahkan ekspresi gadis itu ketika dirinya bercerita panjang lebar.
"Aku mencintaimu, Anindya Cantika Alitza."
"Aku lebih mencintaimu, Gilang Pratama Putra."


Bogor, 19 Desember 2015
Pukul 23.45

Untuk setiap insan yang jatuh cinta dan saling memperbaiki.
---------------------------------------------------------

Catatan: Ini adalah hasil karya dari pembaca majalah Triple yang dikirim melalui Official Line Account kami. Bagi Trippies lain yang ingin mengirimkan karyanya, bisa langsung hubungi OA kami dengan ID @soc0246q, ya!

Label: